Friday, July 5, 2013

RASA UNTUK TANIA bagian 9



Bagian 9.
Malam ini saat mulai tidur kepalaku terasa berat. Aku gelisah selama beberapa jam, namun menjelang dini hari akhirnya aku bisa tertidur juga. Aku tidak tahu berapa lama aku tidur, sepertinya sebentar, karena ada sesuatu yang membuatku terbangun.

Ada yang mengusik badanku saat aku sedang tertidur lelap. Sebuah benda berat menindih lenganku. Aku membuka mata dan melihat lampu kamar masih menyala, sepertinya aku tadi lupa mematikannya. Mataku terasa perih, lalu aku mengedip-ngedipkannya sebentar, sampai mataku mulai terbiasa. Lalu saat aku melihat ke sebelah kiri, aku terkejut. Benda berat yang menindih lenganku adalah Tania.

Tania tiduran di sebelahku. Kepalanya ada di dekat pundakku, sementara badannya memeluk erat lengan kiriku. Ia mengenakan kaos putih tipis dan celana pendek longgar, wangi sabun dari tubuhnya bisa kucium dengan cukup jelas.

Kenapa ia bisa ada di sini? Jantungku berdetak kencang. Aku ingat, mungkin aku lupa mengunci pintu kamar ketika akan tidur tadi. Aku kelelahan dan pikiranku kacau, aku sampai tak ingat mengunci pintu.

“Di….,” Ucap Tania agak mendesah. Rupanya ia tidak tidur.
Tania menegadahkan kepalanya, berusaha menatap wajahku. Jarak wajahku dan wajahnya kini hanya beberapa senti.
“Maafin gue, Di…. Gue tau gue yang salah,” ucapnya pelan.
Aku berusaha menenangkan diriku. “Tan… kenapa lo tiba-tiba ke sini?”
Tania menghela nafas, lalu memeluk lenganku dengan lebih erat. Aku dapat merasakan gesekan payudaranya dari luar kaos yang ia kenakan.
“Hmmmm…. gue pengen, Di…”
Aku kaget mendengar kata-katanya. Ucapan Tania berhasil membuat darahku berdesir. Sebelum aku sempat mengucapkan apa-apa, tiba-tiba Tania mencium leherku, lalu tangannya meraba penisku dari luar celana boxer yang aku pakai.
“Tan…. kenapa lo tiba-tiba jadi… “
“Mmmmmh….. Mmmmhhh…” bibir kami langsung beradu, saling lumat dan saling hisap. Oooh, sungguh aku merindukan bibir ini. Aku merindukan kelembutan bibirnya setelah sekian lama.

Tangan Tania menyelinap ke balik celanaku, lalu ia mengambil batang penisku dan
mengeluarkannya dari celana. Dengan gerakan yang pelan dan lembut ia mulai mengocoknya, sementara itu bibir kami terus berpagutan. Refleks, tanganku juga menyelinap ke balik kaosnya dan mencari gunung mungil yang sudah lama kurindukan. Aku meremas payudara kiri Tania dan memainkan putingnya. Putingnya sudah keras dan tegang, sangat enak untuk dimainkan menggunakan jari.

Tania bangkit, ia duduk di atas lututku. Lalu ia mengarahkan penisku yang sudah berdiri tegak ke arah selangkangannya yang masih terhalang celana. Pelan-pelan ia menggesek-gesekkan ujung penisku ke selangkangannya.
“Hhhhh…. gue kangen sama kont0l lo, Di…. Mmmhhh…”
Tak lama kemudian ia memerosotkan celananya sendiri beserta celana dalamnya. Terlihatlah vaginanya yang bekas dicukur dan masih tak berubah seperti dulu. Tania menggesek-gesekkan ujung penisku di bibir vaginanya namun tampak berhati-hati.
“Tan…. Ohhh….” aku tak sanggup menahan desahan.
“Uhhh… cuma gesek-gesek aja ya Di…. ini yang terakhir kalinya…” desah Tania.
Mendengar kata-kata itu tiba-tiba saja aku jadi merasa agak kesal. Aku tidak mau. Aku tidak mau cuma sekedar begini. Aku menginginkannya. Aku ingin tahu apakah dia masih perawan atau tidak saat ini. Aku tidak mau kehilangannya.

Tanpa minta izin terlebih dahulu, aku menarik kedua tangan Tania, lalu aku lempar tubuhnya ke atas kasur. Aku menindihnya, kutahan kedua lengannya dan kulebarkan kedua kakinya.
“Aw! Di! Lo mau ngapain?” Tania protes.
“Please, Tania…. Gue mau jadi yang spesial buat lo… gue mau….” ucapku sambil berusaha menahan tangannya yang meronta-ronta.
“Jangan Di… gue udah, gue udah tuna.. nga… aaaaaah!”
Dengan gerakan yang memaksa, kepala penisku masuk ke dalam bibir vagina Tania. Ia masih berusaha melawan, tapi tenagaku lebih kuat dalam menahan gerakan tangan dan kakinya. Kudorong lagi pinggulku ke arah depan, penisku masuk semakin dalam ke lubang vagina Tania. Oooh… rasanya sungguh luar biasa. Rasanya berbeda dengan lubang vagina Ghea, milik Tania terasa lebih hangat dan lebih lembut. Kuteruskan mendorong penisku, lalu kugunakan sedikit tenaga hingga batang penisku masuk seluruhnya ke vagina Tania.
“Adiiii…! Aghhh! Sakiiiit! Sakit Di….!” Tania menjerit. Gerakan tangannya berubah menjadi lemas, dan sedikit demi sedikit ia berhenti melawan. Tapi ia mulai menangis.
“Tan… jangan nangis… please gue minta maaf,” ucapku.
“Sakiiit…. lo jahat….. “
Aku melihat ke arah vagina Tania, lalu aku menemukan bekas darah yang membasahi seprei kasurku. Aku terkejut. Aku tidak tahu apa yang harus kukatakan sekarang.
“Lo masih perawan, Tan?” tanyaku terbata-bata.
“Sekarang udah nggak, bego lo! Bego!” Tania memeluk leherku dan berusaha menghentikan tangisannya.

Aku tidak mau menyia-nyiakan ini. Perlahan aku mulai menggenjot vagina Tania, awalnya agak pelan karena aku tidak ingin menyakitinya lebih lanjut. Dinding vagina Tania terasa sempit dan meremas-remas batang penisku. Jadi seperti inilah vagina dari perempuan yang selama ini selalu kurindukan, yang selalu kuinginkan. Luar biasa.
“Aaaaaah…. Aaakhh… Ooouhhh…” Aku terkejut mendengar Tania mulai mendesah. Ternyata ia cepat bisa menikmati ini.
“Udah nggak sakit kan, Tan?” tanyaku sambil mempercepat genjotan.
“Nggak…. ahhh enak… mmhhh….” desah Tania.
“Gue cepetin lagi ya?”
“Uuhh… Iya Kak… yang cepet… terus Kak….”
“Hah? Tan? Sejak kapan lo manggil gue Ka…..”
Tania melepaskan pelukannya, lalu aku dapat melihat wajahnya. Ia bukan Tania! Ia Ghea! Bagaimana mungkin? Tidak masuk akal!

Ghea berbaring di bawahku, kakinya direntangkan lebar, tangan kirinya meremas-remas payudaranya sendiri. Ghea tampak tersenyum, tapi ia terus menggerak-gerakkan pinggulnya supaya aku tidak berhenti menggenjotnya. Ia tersenyum sambil mendesah, lalu perlahan ia mengacungkan jari tengahnya ke depan mataku.

Aku gemetar sekujur tubuh. Dengan sangat cepat, Ghea bangkit dan mendorong tubuhku. Aku jatuh terlentang, lalu kepala Ghea turun hingga ke depan penisku. Ia kemudian menghisap penisku dengan mulutnya. Lalu ia menggigitnya. Ia menggigit penisku! Krauk! Krauk! Aku menjerit sekuat tenaga. Aaaaaaaa!

Lalu aku terbangun di atas tempat tidur. Cuma mimpi? Tidak ada siapa-siapa di sampingku. Tidak ada Ghea, tidak ada Tania. Aku masih sendiri.

Cerita Selanjutnya klik link dibawah ini:

0 comments:

Post a Comment

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More